Ramona

Sudah tiga minggu kecelakaan kapal itu berlalu. Artinya aku sudah tiga hari terombang ambing di lautan, dan menghabiskan sisanya di rumah sakit ini. Entah mukjizat apa yang mempertemukanku dengan kelompok nelayan yang menemukanku di tengah lautan dan membawaku ke rumah sakit ini. Tapi aku merasa sudah baikkan sekarang. Tulang igaku memang patah, tapi sudah selesai dioperasi dan tahap penyembuhannya bisa dilakukan dari rumah. Luka bakar di punggungku masih sangat menyiksa karena perih sekali.

Beruntunglah aku memiliki Annia dan Alex yang bersedia membantuku mengurusi seluruh administrasi rumah sakit dan mengantarku pulang. Tapi aku lebih beruntung memiliki Kapten Dewangga. Maka kuputuskan di hari pertamaku keluar dari rumah sakit ini untuk menemui Kapten Dewa di tempat tinggalnya.

***

Pusaranya masih baru. Tanahnya masih gembur. Bunga-bunga di atas pusaranya juga masih belum dibersihkan. Ada seorang perempuan dekat pusara itu. Tinggi, kurus, berselendang hitam dan berpakaian serba hitam. Rambutnya beberapa memutih, tampaknya ia sepantaran usianya dengan Kapten. Ia memakai payung dan kacamata hitam. Aku dekati pusara itu. Duduk dan mengirim doa untuk Kapten.

"Dia temanmu?", Perempuan tua itu menyapaku lebih dulu.

"Ya. Dia kapten kapalku. Sudah dua tahun aku bekerja untuknya. Aku bersamanya di kapal itu. Ia yang memberikanku jaket keselamatannya. Ibu, temannya?"

"Aku istrinya"

"Istrinya?? Ia tak pernah bercerita tentang istrinya padaku.."

"Ia pikun berat setelah kecelakaan itu. Em, Maksudku, kecelakaan di tempat kerjanya yg dulu. Jangan percayakan ingatannya.."

"Maksudnya?"

"Saat itu ia masih seorang juru potong di sebuah tempat pemotongan ayam. Tak tahu bagaimana ceritanya, ia terpeleset jatuh. Lalu kepalanya membentur pisau potong, atau entah bagaimana. Yang jelas kutemukan tengkorak kepalanya retak dan ia kehilangan sebagian ingatannya", Perempuan itu menyeka airmatanya.

"Ia koma dua minggu. Setelah ia sadarkan diri dan menjalani pemulihan, ia sudah jadi orang yang berbeda. Ia tak ingat beberapa hal yang penting", lanjut perempuan itu.

"Oh tentang kecelakaan yang akhirnya membuat ia jadi nelayan itu, ia cerita padaku. Sisanya adalah cerita yang belum kudengar, bu.."

"Ya. Uang kompensasi kecelakaan dari perusahaan dan asuransi ia gunakan untuk membeli kapal. Ia memutuskan untuk berhenti jadi tukang potong ayam dan menjadi pencari Ikan Tuna, ‘Seorang pisces harus menyatu dengan laut!’, begitu katanya."

***

Gelombang laut sangat tinggi. Bahkan saking tingginya kapal kami seolah berada di dasar laut. Kapal kami membentur keras koral laut. Saat itu badai di luar prediksi kami. Tapi kapten memutuskan untuk bertahan dalam badai, sekuat-kuatnya.

"Cuaca makin memburuk, kapten! Angin merobek layar dan lambung kapal pecah karena membentur koral! Apa yang harus dilakukan sekarang, kapten?!"

"Mana jaketmu, Jack!"

"A…a..ku lupa membawanya kapten.."

"Ini! Kenakan jaketmu!", kapten melempar jaket pelindungnya dari dalam ruang kemudi.

"Aku tak mendengarmu, kapten! Kenapa kapten?!"

"Tinggalkan kapal ini, kenakan jaketmu! Kapal ini akan tenggelam, Jack!"

"Tapi jaket ini milikmu…"

"Aku perintahkan padamu! Kenakan jaket itu sekarang juga! Demi Tuhan, Jack! Seorang kapten kapal takkan meninggalkan anak buahnya lebih dulu",

Aku tak pernah melihat raut muka Kapten yang seseram itu dari biasanya. Ia benar-benar serius kali ini untuk memintaku menggunakan jaketnya. Angin semakin kencang dan kami terombang-ambing di gelombang laut. Air laut makin banyak yang masuk kapal dan membuat kapal tenggelam perlahan-lahan.

"Jack kemarilah!"

***

"Ia tak pernah nyatakan cintanya lagi padaku, setelah kecelakaan itu. Setiap hari aku harus mengurus pria tua yang pikun, tapi tak pernah sekalipun mendengarnya menyebut namaku. Setiap paginya, ia hanya menyebutku dengan nama-nama perempuannya sebelumku, Maria, Felicia, Petunia. Tak pernah nama asliku, Ramona.

"Jadi kau, Ramona?"

"Ya. Kenapa anak muda?"

"Ah tak apa. Aku ingin menyimak kelanjutan ceritamu. Banyak hal yang belum pernah kudengar.."

”..Lalu, aku memutuskan untuk pergi darinya di suatu pagi. Aku tak tahan lagi. Tapi aku tak mau menceraikannya. Aku tak ingin benar-benar pergi darinya. Aku masih ingin mengetahui keberadaannya dan kabarnya. Aku hanya kembali ke rumah orangtuaku. Setiap pagi sampai tanggal 10 Agustus, aku masih rutin memberinya sarapan dan lalu pergi lagi sebelum ia terbangun. Setelah tanggal 10 Agustus aku merasa cukup. Aku rasa ia bisa sendiri tanpaku. Tapi setiap ia melaut, aku pasti ke tepi dermaga. Melihatnya pergi, sampai menghilang di horizon”,

Perempuan ini lalu mengambil selembar tissue dan menyeka airmatanya lagi.

"Kau tahu, aku tak pernah suka anjing kurus tua ini. Aku amat membencinya, dulu. Tapi aku sadar aku hanya mengelak dari perasaanku. Karena tanpa sadar, pengelakanku ini hanya membuatku mencintainya lebih dalam lagi. Ia laki-laki yang layak dicintai, tapi aku terlalu gengsi merubuhkan batu-batu pertahananku. Aku terlalu hidup pada pikiran-pikiran burukku tentangnya"

Pernyataannya membuatku heran. Aku beranikan untuk bertanya satu hal pada Ramona,

"Lalu bagaimana kalian menikah?"

***

"Apa yang pernah jadi penyesalan dalam hidupmu, Jack?"

"Aku tak mengerti, kapten"

"Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku, Jack!!"

"…A..aku su..lit berpikir, dalam kondisi seperti ini, Kapten…"

"Rileks, Jack. Sebagai kapten, kuberi tahu kau. Kapal ini akan tenggelam dalam beberapa menit. Aku sudah kehilangan seluruh sistem navigasi. Kita hanya akan menunggu kapan itu terjadi. Maka dari itu, ceritakanlah sesuatu padaku sebelum itu terjadi…"

"…maaf kapten, a.. aku masih sulit berpikir.."

"Kalau begitu dengarkanlah ceritaku, Jack.."

Kapten lalu menyetel pemutar musiknya dengan lagu dengan volume keras sekali. Sehingga suara petir dan hujan tak terlalu terdengar.

"Your day breaks, your mind aches
You find that all the words of kindness linger on
When she no longer needs you….”

"Aku pernah kenal dengan seorang perempuan, namanya Ramona. Aku mencintainya tapi aku tak pernah melihatnya lagi semenjak aku kecelakaan di tempat potong ayam. Aku ingin carilah dia, Jack. Aku selalu membawa ini setiap kali berlayar. Ini fotonya."

"She wakes up, she makes up
She takes her time and doesn’t feel she has to hurry
She no longer needs you..”

Kapten mengeluarkan satu plastik yang berisi foto-foto seorang perempuan muda dari saku bajunya.


***

"Ia dulu mengejarku. Begitu gigih. Ia membuatkanku cerita. Membawakan makanan-makanan yang aku suka. Membawakanku bunga lily putih dan bunga peony merah jambu.

Ia memang pandai merayu. Aku awalnya tak yakin ia hanya melakukan itu padaku. Aku tak pernah percaya padanya. Aku tak pernah bisa membedakan saat ia gombal atau menyatakan perasaannya padaku secara tulus. Aku berprasangka begitu karena tahu ia gemar main perempuan.

Tapi aku luluh juga. Beberapa kali kuminta ia menjauh dariku, tapi kami tak bisa. Aku pun membutuhkannya. Aku akhiri petualangan cintaku karena tak ada laki-laki lain yang mengerti kemauanku lebih baik daripadanya. Aku menerima lamarannya yang ke-delapan belas. Lalu kami pun menikah”

Perempuan ini tersenyum. Senyumnya manis. Seolah ingatannya membawa kenangan manis yang mendorongnya tersenyum manis. Ia membuka kacamatanya. Matanya.. Ah matanya!.

Lalu aku teringat satu hal yang diucapkan Kapten.

"Maaf bu. Sebelum kapal kami ditenggelamkan ombak besar dalam badai buruk itu dan aku berpisah dengan kapten untuk selama-lamanya, Kapten sempat bercerita tentangmu. Tentang Ramona"

"Apa yang kau katakan anak muda?? Dewa bercerita tentangku?? Apa katanya??"

***

"And in her eyes you see nothing
No sign of love behind the tears
Cried for no one
A love that should have lasted years….”

"Lihat matanya, Jack. Aku selalu suka matanya. Matanya selalu membuatku rindu dan cepat kembali ke rumah untuk mencarinya. Tapi pencarianku selalu gagal. Aku tak pernah menemukannya lagi.. Barangkali ia telah jauh meninggalkanku. Cari dia Jack. Berikanlah ia ini"

Kapten mengeluarkan kalung di saku bajunya.

"Ini adalah kalung batu Turquoise. Kalung itu hadiahku untuknya, karena turquoise adalah batu lahirnya. Tapi ia tinggalkan kalung ini saat pergi dariku."

Aku terima itu dan kuikatkan di kantung uang di saku celanaku. Lalu kupastikan lagi namanya,

"Ramona?"

"Ya. Ramona, Jack."

"Ma..af.. Tapi siapakah dia, kapt?"

"Kau tak perlu tahu banyak tentang dia, Jack. Dia adalah hidupku. Dia matahari dan bulanku, Jack. Dia harapanku, dan penyesalanku adalah menyerah pada keadaan karena tak bisa meyakinkannya seumur hidupnya"

"Kau jatuh cinta, kapt?"

"Hahaha tolol jika kau tak bisa merasakan cintanya. Jack, apakah kau percaya pada koneksi-koneksi, yang barangkali tak masuk akal, yang akan menyambungkanmu pada belahan jiwamu walau kau sudah terputus jarak dan waktu sekian lama?"

"Tidak, kapt"

"Percayalah. Aku dan Ramona sering menyebutnya "Jembatan". Kaulah salah satu jembatan itu. Ceritakanlah padanya tentang jembatan-jembatan itu. Itu yang tak bisa membuatku lupa padanya"

***

"Lalu ombak besar mengempas kami. Aku terpental dan kapten masih berpegangan di kemudi kapal. Kami berteriak satu sama lain untuk memastikan keadaan kami baik-baik saja sebelum akhirnya dua atau tiga ombak besar membalikkan kapal kami.. Aku terpental dari ruang kemudi kapal.. Mencoba berenang keluar dari kapal. Badai begitu besar.. Aku tak bisa melihat apa-apa kecuali air dan petir.. Sejak saat itu aku tak lagi melihat Kapten.."

Perempuan itu menyeka lagi airmatanya.

"Bu, terimalah ini. Ini kalung dan fotomu yang selalu ia bawa berlayar. Kapten selalu mencintaimu, bu"



"Kau benar. Hanya kematian yang membuatnya berhenti mencintaiku"

***


"Your day breaks, your mind aches
You find that all the words of kindness linger on
When she no longer needs you

She wakes up, she makes up
She takes her time and doesn’t feel she has to hurry
She no longer needs you

And in her eyes you see nothing
No sign of love behind the tears
Cried for no one
A love that should have lasted years

You want her, you need her
And yet you don’t believe her when she said her love is dead
You think she needs you

And in her eyes you see nothing
No sign of love behind the tears
Cried for no one
A love that should have lasted years

You stay home, she goes out
She says that long ago she knew someone but now he’s gone
She doesn’t need him

Your day breaks, your mind aches
There will be time when all the things she said will fill your head
You won’t forget her

And in her eyes you see nothing
No sign of love behind the tears
Cried for no one
A love that should have lasted years….”

***

Jatiasih-Facebook, 

August 11, 2014 at 18:18

Hey Moon

I know it’s been so long
since we saw each other last
I’m sure we’ll find some way
to make the time pass

Hey moon
It’s just you and me tonight
everyone else is asleep
Hey moon
If I was to fall
I would fall so deep

(Pindahan Notes Facebook)

Halo. Udah lama gue gak nulis di sini. Hehe. Karena sekarang lagi demam banget sama Piala Dunia 2014,makanya gue bakal ngomongin tentang Pemilihan Umum Presiden tahun 2014 di tulisan gue. :D

Tulisan ini, bukan semacam tulisan untuk menggiring lu pada sebuah kesimpulan untuk mendukung salah satu capres. Gue tidak akan menutup tulisan ini dengan kalimat seperti “Karena itu, pilihan terbaik kita adalah nomor urut dua” atau kalimat semacam “Jokowi presidenku”. Enggak. Bukan. Gue cuma mau nulis tentang fenomena orang-orang yang tiba-tiba jadi beda tiap ada pilpres ini. Oh iya.Tulisan ini gue dedikasikan buat temen gue yang jadi korban karena terlalu stress nguruspemilu. Semoga cepet kembali ke peradaban planet Saturnus ya, kawan.

***

Seminggu setelah kampanye gue iseng-iseng observasi. Gue jalan-jalan random, mulai dari Bekasi sampe keliling-keliling ke tiap wilayah di Jakarta cuma buat melihat fenomena pemilu itu dan efeknya pada masyarakat.Banyak tanggapan berbeda dari masyarakat jelang pemilihan Presiden ini. Ada orang yang sangat antusias nyambut pemilu kali ini, ada yang rela ngapain aja demi mendukung dan memperlihatkan loyalitasnya pada salah satu capres pilihannya, ada yang biasa aja nanggepin pemilu kali ini - bahkan cenderung skeptis. Nah justru yang paling banyak adalah jumlah orang yang bodo amat. Haha. Anggapan mereka seragam, gue ambil contoh A (23 tahun, seorang pekerja lepas) yg gue temuin di sebuah kafe abis solat isya di bilangan Kebon Jeruk, “ada atau engga ada pemilu, tetep aja gabakal ada sistem yang berubah total karena model budaya penduduknya udah terlanjur ‘begitu’.” Menurut dia, butuh waktu lama buat ngubah kebiasaan orang dan itu ga cukup 5 tahun doang. Jadi menurutnya, daripada ngabisin waktu buat belain orang lain yang belom tentu juga nanti belain dia, mending ngurus hidup diri sendiri aja dulu yang udah susah. Realistis.

Setelah itu, gue mulai observasi ke dunia maya, dunia yang paling gampang kita pantau karena mudahnya teknologi yang ada. Setelah gue lakukan observasi singkat banget itu (+/- sekitar5 menit, haha), gue menyimpulkan setidaknya ada empat jenis tipe manusia dalam fenomena pemilihan umum ini: 1. Aktor; 2. Kusir; 3. Komentator; dan 4. PedagangPasar.


1. AKTOR

Jenis pertama adalah orang-orang yang menjadi pemain langsung dalam pemilihan umum ini. Mereka yang bersaing dan terlibat dalam lapangan tempur. Ibarat main bola,ada kiper, ada bek, ada gelandang dan ada penyerang. Terserah mereka mau maindi posisi mana. Sifat dari para pemain ini beragam. (Sifat ya). Lu kan udah taulah siapa yang menjadi pemain dalam ajang pilpres kali ini. Karena itu, daripada gue sebut Jokowi-jokowi lagi, lebih baik gue ga sebut sama sekali nama dan sifat capres dan cawapres kita yang punya delapan biji itu satu persatu. (Satuorang = dua biji).

Secara umum, jenis aktor ini memiliki dua sifat. Sifat pertama, pintar. Sifat kedua,bodoh. Pintar dan bodoh ini bukan dalam artian tingkat intelektualitas atau intelegensia masing-masing capres-cawapres tapi dalam artian cara mereka bermain dan menangkap momen di pilpres ini. Sifat bodoh dimiliki oleh aktor-aktor yang berpikir secara total bahwa dalam ‘bermain bola’ ini kita harus bermain fair, bersih dan tidak boleh kasar. Lo boleh menyimpulkan itu sebagai kenaifan.Pikiran itu (boleh) betul dan ideal. Memang ada wasit dalam pertandingan. Tapi masalahnya adalah lo sedang bermain dalam lapangan lumpur, yakni sebuah sistem permainan yang penuh celah dan cacat dan dipenuhi kecurangan. Nyatanya, pemilihan umum makin kesini sudah dalam tahap tidak se-ideal pikiran-pikiran itu.

Bener kata A, di atas tadi, “ada atau ga ada pemilu, tetep aja ga bakal ada sistem yangberubah total karena model budaya penduduknya udah terlanjur ‘begitu’”. Para pemain udah terlanjur menghalalkan segala cara supaya menang. Mau pake cara halal, mau haram, mau dibolehkan, mau dilarang yang penting hajaaaar terooos sampe JEBREEEET!. Hahaha. Justru capres yang bisa menangkap momen dan memanfaatkannya inilah yang pintar (atau katakanlah cerdik). Dia cerdik karena bisa memanfaatkan kekotoran sistem ini, bermain intimidatif, dan menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai. Mereka yang pintar ini pula yang sangat ambisius dan selalu berpikir bahwa pemilihan presiden ini adalah sebuah kompetisi. Levelnya bukan lagi “pertandingan persahabatan” dimana menang-kalah bukan jadi urusan. Ini adalah kompetisi dimana yang menang mengambil semua, dan yang kalah…. manyun.

…..Tapi diatas bodoh atau cerdiknya seorang aktor, aktor yang baik dituntut supaya tidak mudah ditebak cara bermainnya oleh aktor yang lain. 

2. KUSIR

Jenis yang kedua adalah kusir. Kusir adalah mereka yang membangun opini dan menciptakan citra si aktor supaya terlihat bagus di mata orang. Kusir mirip seorang ibu yang mendefinisikan “anakku pintar lho, baru satu tahun udah bisa bahasa Arab” setiap kali ketemu orang-orang atau ibu-ibu lainnya yang lagi kumpul di Posyandu. Jenis ini adalah pengendali. Mereka yang membangun, menjaga dan membuat para penonton bisa setuju sekali dengan citra dan opini yang mereka bangun dan inginkan. Lalu siapakah kusir-kusir ini?

Ada dua kusir dalam pendapat gue: kusir pertama adalah Media dan kusir kedua adalah Penyumbang Dana Untuk si Pemain. Media bertugas untuk membangun opini dan menciptakan citra. Dalam media, seorang politisi yang paling busuk dan bau lumpur saja bisa jadi seorang yang amat berjasa bagi nusa dan bangsa. Dalam media, seorang pimpinan yang baik dalam sekejap citranya bisa menjadi orang yang sangat jahat, tak amanah, dan sebagainya karena fitnah-fitnah yang dikemas menjadi berita. Opini-opini inilah yang dibangun dan dilempar oleh media dengan sasaran justru bukan untuk orang-orang yang antusias dalam mendukung pasangan A atau B.Opini ini justru dibangun dan dilempar oleh media dengan sasaran mereka yang masih menganggap pilpres sebagai sesuatu yang biasa saja atau mereka-mereka yang masih bodo amat tadi. Karena apa? Karena jumlahnya paling banyak, paling signifikan dan (sangat bisa) menentukan berhasil atau tidaknya bangunan opini dan pencitraan yang dibangun media itu menjadi sebuah monument yang abadi. Preet.

Lalu penyumbang dana. Penyumbang dana ini lain lagi konteksnya. Dia lebih bersifat mengendalikan haluan main si pemain. Tugasnya lebih intern,membentuk karakter pemain dari dalam. Mereka biasanya pengusaha, pebisnis atau pemilik Partai, yg mengendalikan kebijakan si pemain: apakah boleh ambil kebijakan Aatau tidak, boleh kerjasama dengan si A atau B, ga boleh kesini atau kesana,perang sama si A atau damai sama si B, dsb. Penyumbang dana adalah orang yg amat memiliki kepentingan dalam permainan ini (dalam hal ini pilpres). Kepentinganutama adalah… Duit. Seperti gue bilang sebelumnya, ini adalah kompetisi dimana yang menang mengambil semua dan yang kalah….. manyun.

Penyumbang dana ini rata-rata punya logika yang mirip yaitu: “gapapa rugi dulu sekarang asal bisa maksimal, biar nanti duitnya berubah jadi suara. Nah kalo jadi suara, bisa balik modal dan insya allah dapet duit lebih banyak. Makanya ga boleh pelit, ga boleh itung-itungan. Semakin banyak ngeluarin duit, semakin banyak suara, anggep sedekah. Kalo menang dapet dana APBN. Bismillah.”. Dan rata-rata orang ini akan menuju dukun penyembuh stress kalo kalah pemilu.

Tapi,selain motif ekonomi, dengan menjadi pemenang pilpres, posisi si peyumbang dana tentu amat sangat strategis di negeri ini. Pertama, ia akan sangat dipercaya oleh orang nomor satu di negeri ini, sehingga kepentingan bisnisnya SANGAT TERJAGA, kredibilitasnya sebagai pebisnis/ketua partai juga akan naik. Kedua, pemilik modal ini juga yang akan menentukan kemana arah ekonomi atau ideologi negara. Buat yang kedua, agak maksa sih.Cuma siapa yg bisa jamin kemungkinan itu ga terjadi?

Ah,gampangnya gini aja. Klub Chelsea FC itu klub medioker sebelum dibeli Roman Abramovic. Tapi setelah dibeli, dipoles, dibelanjain pemain-pemain bagus,Chelsea bisa berprestasi karena jadi juara liga Champions Eropa. Ada pride bagi pemain, ada freshmoney bagi penyumbang dana. Simbiosis. Entah apa nama simbiosisnya, but As simple, as that.

3. KOMENTATOR

Komentator adalah mayoritas masyarakat di negeri ini. Negeri ini adalah negeri komentator. Apaaaaaa aja dikomentarin. Mulai dari foto sampe status, dari hal-hal sepele sampe obrolan politik. Komentator biasanya akan mengomentari apa yang dibangun oleh media atau komentator lainnya. Mereka sering ribut sendiri. Tapi sayangnya, mereka sangat sedikit membicarakan hal-hal yang substansial. Kalaupun ada komentator yang ngomongin masalah pelanggaran HAM salah satu capres,dia bakal kalah jumlah dengan komentator yang ngomongin muka kampungan Jokowi *syit kesebut* atau komentar lainnya yg lebih mengomentari capres/cawapres secara fisik atau hal-hal yang gak substansial.

Karena itu, sifat kebanyakan komentator ini bodoh. Bodoh dalam artian sesungguhnya.Hahaha. Mereka ini gampang dikendalikan oleh kusir. Kemana kusir belok,komentator akan belok juga komentarnya. Mottonya, yang penting komentar! Hehehe. Saking banyaknya komentator di negeri ini, peran komentator jadi amat dibutuhkan dan (bisa dibilang juga) menentukan. Dalam era teknologi internet ini, kualitas komentator bukan dilihat dari tingginya gelar akademis yang ia peroleh di perguruan tinggi. Kualitas komentator di dunia maya dilihat dari berapa banyak komentar di facebook atau jumlah followers di Twitter. Komentator terbaik adalah komentator yang status facebooknya rame jadi bahan diskusi yang dia bahas atau yang followers di twitternya banyak sehingga, walaupun, dia ngomong “gue lagi berak nih” bisa di retweet dengan jumlah retweet yang lebih banyak dari jumlah wc di Terminal Kampung Rambutan.

4. PEDAGANG PASAR

Pedagang pasar adalah mereka yang memanfaatkan hiruk pikuk dan ributnya orang-orang di fenomena pilpres ini. Sebenarnya pedagang gak ada urusan langsung dengan pilihan politik si pemain atau dengan kusir. Para pedagang pasar “cuma” memanfaatkan semua kemungkinan-kemungkinan sebagai kesempatan mereka menjual apapun yang diinginkan oleh pemain-kusir-komentator dengan harga semahal-mahalnya. Sikap mereka biasanya tak mau nyata-nyata berafiliasi pada satu pemain, karena kebanyakan Pedagang Pasar bermotto: “Kalaugue bisa ambil semua, kenapa enggak”.

Pedagang pasar ini adalah orang-orang pintar. Secara intelektual dan secara teknikal. Mereka bersikap seolah netral padahal oportunis sejati. Mereka cenderung ambil posisi diam untuk melihat suasana, mana yang akan lebih menguntungkan. Karena siapa pun yang menang, siapa pun yang kalah tetap akan menghasilkan uang untuk para pedagang pasar ini. Mereka adalah orang yang paling senang apabila ada keributan di pasar. Semakin ribut, semakin banyak orang, semakin ramai yang datang, semakin besar kemungkinan jasa mereka digunakan. Hehehe.

***

Itulah jenis-jenis manusia yg gue observasi selama fenomena pilpres ini. Empat jenis itu sesungguhnya bisa lebih bisa kurang tergantung pendapat lu dan hasil observasi lu sendiri. Tapi yang jelas, keempat jenis ini masing-masing punya dua sifat absolut: Pelupa Yang Sangat Baik dan Pengingat Yang Sangat Tidak Baik. 

Mereka menjadi pelupa karena fanatisme-fanatisme sempit yang menjadikan mereka bersikap permisif terhadap latar belakang dan rekam jejak orang yang bermasalah. Lalu mereka juga tiba-tiba menjadi pengingat dosa-dosa orang lain dan mengumbarnya ke depan publik hanya demi kepentingan politik mereka mencapai tujuan. 

Oh! tapi ada satu jenis lagi sebenernya. Alien. Ini jenis terakhir yang gue observasi. Tapi karena alien bukan termasuk ras makhluk seperti manusia, makanya gak gue masukin ke dalam daftar yang empat tadi. Alien ini pernah jadi manusia, atau bisa jadi dia manusia yang gak dianggep manusia oleh manusia lainnya, ketika manusia lainnya adalah mayoritas yang bodoh dan ‘keminter’. Sifat alien ini biasanya gamau gampang aja ikut arus komentator. Alien juga biasanya waspada dan selalu curiga dengan opini yang dibangun kusir. Alien pinter baca situasi yang terjadi dan paham mana yang fakta dan mana yang fitnah karena adanya keberjarakan dengan keempat jenis manusia yang tadi. Alien juga lah yang menyadari bahwa diri mereka itu alien, karena mereka ga mau dengan rela disamain dengan masyarakat mayoritas yang ‘keminter’.

***

Jadi yang manakah jenismu? Wuuf.

(pindahan demi johanriopamungkas) :))